Skip to main content

Mengapa daging babi dilarang Allah?

Mengapa daging babi dilarang Allah?

Jika sekali saja berkunjung ke peternakan babi, maka sudah cukup bagi seseorang untuk menjauhi ewan yang kotor ini. Binatang ini memakan sampah dan bangkai, sehingga tubuhnya mengeluarkan bau busuk yang menjijikkan. Babi juga dikenal sebagai hewan yang tubuhnya tidak suci (najis ‘ain), sehingga cara bersuci bagi orang yang menyentuhnya adalah mencuci bagian yang menyentuhnya tujuh kali dan salah satunya dicampuri tanah, persis seperti bersuci dari najis anjing.

Di antara karakteristik babi –di samping sebagai hewan yang kotor dan najis–, ia juga termasuk hewan bertabiat dingin, sehingga tidak pernah merasa cemburu pada lawan jenisnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika orang yang biasa mengkonsumsi daging babi akan memiliki sifat-sifat sebagaimana yang terdapat pada babi. Ia tidak akan cemburu lagi Pada istrinya, bahkan menjadi ger’mo bagi istrinya sendiri.

Sebelum membahas hikmah tersembunyi di balik pengharaman babi yang dewasa ini sudah dapat diungkapkan, ada baiknya kita jelaskan dahulu gambaran umum kehidupan babi. Babi berkembangbiak laksana mikroba. Masa kehamilan babi betina umumnya adalah empat bulan empat minggu empat hari. Ia akan melahirkan bayi babi antara 9, 18, sampai 20 ekor. Ia mengandung dua kali dalam setahun. Babi kecil akan mulai hamil setelah tiga atau empat bulan dari kelahirannya.

Seperti itulah babi, sehingga kita dapati bahwa perniagaan babi menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Akan tetapi, kemadharatan yang ditimbulkannya bagi manusia, sebagaimana hasil penelitian para dokter masa sekarang, akan membuat manusia terkagum-kagum terhadap kemukjizatan Al-Qur’ anul karim.

Berdasarkan kajian-kajian para dokter, tampak jelas bahwa daging babi mengandung banyak lemak, yang mencapai kira-kira sepertiga dari berat badannya._ Oleh karena itu, memakan daging babi akan mengakibatkan kegemukan yang diikuti terjangkitnya beragam penyakit, seperti arteriosclerosis (penyempitan pembuluh nadi), angina pektoris (kejang jantung), penyempitan pembuluh darah, cholecystz’tis (radang kantung empedu), kencing batu, kencing manis, dan gangguan saluran pernapasan.

Selain itu, dinyatakan pula bahwa lemak babi memiliki kaitan erat dengan kanker payudara, kanker pankreas, dan kanker rahim, dan kanker kantung empedu.

Dr. Mahmud ‘Abdul Majid Al-Umrani, seorang yang telah lama bekerja di penjagalan Al-Ali, Kairo selama lebih dari 25 tahun, menjelaskan bahwa penyakit-penyakit yang diakibatkan karena mengkonsumsi daging babi tidak mungkin dapat disembuhkan. Dalam daging babi, ada satu jenis cacing yang penularannya belum ada seorang pun di seluruh dunia yang mampu menghentikannya. Cacing ini bernama trichz’nella. Bahayanya, ia terdapat dalam selaput yang menyerupai kantung kecil berisi cairan yang mengandung makanan baginya. Ia dimungkinkan dapat hidup selama 20 tahun tanpa terlihat gejala apa pun serta tahan terhadap suhu panas dan berbagai antibodi. Jika seseorang mengkonsumsi daging babi yang di dalamnya terkandung seekor cacing ini, maka cairan empedu akan melebur selaput yang mengelilingi cacing pita tersebut, sehingga ia keluar dan turun pada usus, kemudian menembus sistem limpa yang berada di bawah usus. Cacing berjenis kelamin jantan dan betina kemudian kawin. Setelah cacing betina bertelur sebanyak 1500 butir, cacing jantan akan mati. Selanjutnya, hanya dalam tenggang waktu dua jam saja, telur-telur tersebut akan menetas dan keluarlah darinya 1500 larva yang akan menyebar di dalam darah dan seluruh tubuh manusia.

Larva-larva tersebut memiliki keistimewaan antara lain dapat menembus dan mengeluarkan zat yang dapat menghancurkan, melubangi, dan merusak tulang. Semua itu hanya disebabkan memakan sepotong daging babi yang mengandung seekor cacing tersebut. Bagaimana jadinya jika pada daging babi tersebut terdapat 50 atau 60 ekor cacing?

Gejala-gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah pusing, kepala pening, pembengkakan di kening, dan terserang reumatik, sebab cacingtersebut menggerogoti dan mengikis tulang. 3

Di antara cacing lain yang dikandung daging babi adalah cacing pita yang biasa disebut Taenia Soh’um. Ia berbeda dengan cacing pita yang terdapat pada sapi, yang dinamakan Taenia Sagz’nata. J ika kita bandingkan kedua cacing pita tersebut, akan kita dapati bahwa serangan cacing pita sapi lebih lemah dibandingkan cacing pita babi. Sekalipun panjangnya bisa mencapai 8 meter dan menempel pada usus dengan 4 alat penghisap, penderita dapat menghilangkannya tanpa menimbulkan bahaya baginya, jika segera minum obat.

Adapun cacing pita pada babi jika menimpa manusia maka ia akan menempel pada usus dengan dua baris duri yang, ada di sekitar kepalanya. Kendati diobati, duri-duri tersebut akan tetap merobek selaput dalam usus yang akan menimbut kan pendarahan dan luka bernanah padanya, sehingga akan menyebabkan penderita mengalami berak darah dan lendir. Keadaan ini terkadang juga bisa mengakibatkan kanker akibat adanya gesekan yang terus-menerus antara duri-duri tersebut dan dinding usus yang akan sulit disembuhkan.

Di samping itu, ada beberapa penyakit yang diderita babi dan bisa menular kepada siapa saja yang mengkosumsinya, seperti sakit erysipelas (penyakit kulit yang akut dan bersifat menular disertai demam), demam babi, TBC, demam hitam, dan lain-lain.

Jika kita memperhatikan sensus internasional, khususnya berkaitan dengan wabah yang telah menelan korban jutaan manusia karena berpindahnya _virus epidemik dari babi ke manusia, kita akan mendapati bukti-bukti yang sangat menakutkan.

  • Epidemik pada tahun 1918 yang tersebar luas di dunia telah menelan korban 20 juta orang meninggal duniaPenyebabnya adalah virus influenza babi.
  • Penyakit yang dikenal dengan istilah “demam Asia” dan menyebabkan meninggalnya jutaan manusia pada tahun 1957 dan 1966. Penyakit ini berasal dari negeri Cina yang bersumber dari virus babi, sebab Cina termasuk negara yang paling banyak memiliki peternakan babi.
  • Epidemik influenza babi yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1977 mengakibatkan munculnya penyakit paralysis (kelumpuhan), sekalipun pemerintah Amerika telah mengeluarkan dana ribuan juta dolar untuk memvaksinasi penduduknya guna menangkal virus ini.
  • Penyakit radang otak yang menyebar di Jepang dan negara-negara Asia Timur disebabkan oleh virus babi yang berpindah dari babi kepada manusia melalui nyamuk. Orang yang meninggal karena penyakit ini sangat tinggi, yaitu mencapai 28% dari mereka yang terkena wabah ini.
  • Penyakit demam Malta yang menyerang hewan dan menyebabkan hewan-hewan pada keguguran. Babi sangat berperan dalam menularkan penyakit ini kepada manusia. Demam ini sulit didiagnosis, baik pada hewan maupun pada manusia. Selain itu, tidak ada serum pencegahnya. Komplikasi dari penyakit ini cukup banyak, yang terpenting di antaranya adalah meningitis (radang selaput otak), radang otak, radang selaput jantung bagian dalam, pembengkakan pada limpa dan hati, cholecystitis (radang kandung empedu), radang persendian, radang ginjal, radang testis, dan radang mata.
  • Mikroba semonila babi yang menyebabkan demam thyphoid (tipus) dan paratyphoid (tipus ringan) serta radang lambung dan usus halus.
  • Mikroba spirochete yang menyerang babi dan berpindah kepada manusia. Ia akan menyebabkan beragam penyakit, yakni demam tinggi, jaundice (penyakit kuning), kepucatan pada tubuh, dan pendarahan pada pembuluhpembuluh bagian dalam. Yang lebih berbahaya dari semua itu adalah penyakit kuning yang disertai pendarahan, sebab ini akan menyebabkan timbulnya infeksi yang parah pada hati serta akan menurunkan tekanan darah dalam jantung. Mikroba ini ada pada air seni, darah, dan jeroan babi.
  • Antara 20% sampai 80% bangkai babi yang ada di tempat pembantaiannya membawa mikroba karet yang mematikan, yakni mikroba yang memiliki daya tahan tinggi sehingga dapat tetap hidup meskipun sudah dimasak atau dididihkan. Jika ia mendapat makan beberapa saat saja, ia akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Ia akan menyebabkan pengikisan usus halus, radang usus besar, radang kulit, radang otot, dan munculnya abses di sekitar kemaluan. Selain itu, ia juga akan menyebabkan radang saluran empedu, radang mata, dan conjunctivitis (radang selaput lendir pada kelopak mata).

Selain semua itu, juga terdapat penyakit disentri babi, yang 100% menyerang babi gemuk. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan akan menyebabkan penyumbatan pada usus.

Andai saja manusia mau memperhatikan dengan seksama beragam penyakit yang disebabkan oleh babi ini serta berpikir dengan seksama perihal nikmat Islam yang menjaga agar manusia tidak terkena beragam penyakit tersebut, ia dipastikan akan bersujud syukur kepada Allah dan berlama-lama sujudnya. Ia akan menyadari bahwa Allah mengharamkan babi kepadanya tiada lain agar dirinya terhindar dari berbagai penyakit membahayakan yang dapat merusak kesehatannya, menghancurkan hidupnya, dan menjadikan tubuhnya sebagai sasaran empuk bagi virus dan mikroba yang amat berbahaya itu.

Alangkah baik dan manjurnya berobat dengan AlQur’an. Dalam ajaran dan wasiat Allah yang-terdapat di dalamnya sungguh terdapat pencegahan yang akan menjaga dan menyembuhkan kita dari beragam penyakit.

Marilah kita tinggalkan bahaya yang timbul dari babi, baik penyakitnya yang mematikan maupun wabahnya yang menakutkan. Kita sekarang akan mencoba menikmati hidangan Al-Qur’an tentang alasan diharamkannya minuman keras dan obat-obat bius.

Sumber : Berobat dengan Al-Qur’an Therapie Prventif, Kuratif, & Ruhani dalam Al-Qur’an. Karya ‘Abdul Mun’im Qindil.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *